NARKOBA ANCAMAN SERIUS GENERASI MUDA

Pengantar
PBB sejak tahun 1987 menetapkan 26 Juni sebagai hari Anti Madat Sedunia oleh International Day Againts Drugs. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan, narkoba tiap tahun membunuh 15.000 nyawa anak bangsa. Ironisnya jumlah pengguna (baca: penyalah guna) narkoba justru bertambah. Saat ini saja di negeri ini terdapat sekitar 3,2 juta pengguna narkoba. Jumlah itu jelas menguntungkan para produsen atau bandar. Berdasarkan riset YCAB (Yayasan Cinta Anak Bangsa), sebuah yayasan yang concern terhadap bahaya narkoba, jumlah pengguna narkoba naik dari 8% pada tahun 2001 menjadi 11% pada tahun 2006.

Narkoba
Narkoba (narkotik dan obat-obatan) atau lebih tepatnya NAPZA (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) adalah bahan atau zat atau obat yang bila masuk ke dalam tubuh kita akan mempengaruhi tubuh, terutama otak atau susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosial oleh karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi), serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.

Penyebab
Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi seseorang mengunakan narkoba. Alasannya berbeda-beda, namun pada umumnya merupakan interaksi beberapa faktor resiko yang mendukung, yaitu faktor individu dan lingkungan.
Faktor individu dipengaruhi oleh rasa kurang percaya diri, kurang tekun dan cepat merasa bosan atau jenuh, rasa ingin tahu dan ingin mencoba, mengalami depresi atau cemas, atau memiliki persepsi hidup yang tidak realistis. Mereka percaya bahwa narkoba dapat mengatasi semua persoalan, atau memperoleh kenikmatan, atau menghilangkan kecemasan, gelisah, takut, dan sebagainya.
Faktor lingkungan dipengaruhi oleh pertama, perubahan dalam struktur sosial. Ketika situasi pendukung bagi orang muda sudah mulai berganti, orang muda tidak dapat membiasakan diri dalam situasi baru tersebut. Akibatnya, orang muda lari dari situasi baru dan mencari perlindungan di tempat lain. Kedua, besarnya pengaruh teman. Umumnya asal mula seseorang memakai narkoba adalah karena bujukan teman. Penolakan terhadap tekanan ini sering kali mengakibatkan ia dikucilkan oleh kelompoknya.
Ketiga, keadaan keluarga yang tidak kondusif atau dengan kata lain disfungsi keluarga mempunyai risiko bagi anak (remaja) untuk terlibat dalam penyalahgunaan NAPZA dibandingkan dengan anak (remaja) yang dididik dalam keluarga yang kondusif (sehat dan harmonis). Keempat, migrasi dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik merupakan penyebab bertambahnya adiksi obat di antara orang muda di kota besar seperti Jakarta.
Kelima, kurangnya pendidikan dan keterampilan (skill) sering mengakibatkan pengangguran dan umumnya sulit sekali untuk orang muda membiasakan diri dengan gaya hidup kota. Banyaknya persoalan yang silih berganti dengan memulai hidup baru bisa membawa orang muda menuju obat-obat berbahaya. Keenam, kurangnya penghayatan kehidupan beragama dalam keluarga mau pun pribadi. Ketujuh, orang-orang yang hidupnya hancur oleh kemiskinan ekonomis dan psikologis dan berusaha melarikan diri dari masalah mereka dengan mudah menggunakan narkoba.
Gangguan fisik yang dialami pengguna narkoba adalah terjadi kerusakan fungsi otak (brain damage), abses pada kulit/pembuluh darah, dapat terjadi osteomielitis, gangguan koordinasi otot, terjadi endocarditis, bronchitis, pneumonia, gigi rusak, kronik konstipasi, impotensi sexual pada laki-laki, gangguan menstruasi dan kemandulan pada wanita, serta hilangnya nafsu makan. Lebih lanjut dapat terjadi koma atau kematian akibat over dosis atau komplikasi, dapat terjangkit HIV/AIDS dan secara psikososial mengalami penurunan prestasi belajar, penurunan produktifitas kerja, permasalahan keuangan, terlibat dalam masalah kriminal, menimbulkan permasalahan baru dalam keluarga, serta kecelakaan lalu lintas.

Peran Keluarga
Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam membentuk dan mempengaruhi keyakinan, sikap, dan perilaku seseorang terhadap penggunaan narkoba. Oleh karena itu keluarga memiliki peran yang sangat penting untuk mencegah atau menghindarkan anak dari penggunaan narkoba Permasalahannya, keluarga yang bagaimanakah yang dapat melakukan hal itu? Hanya keluarga yang mempunyai ketahanan, yakni keluarga yang bahagia dan sehat yang mampu mengeliminasi kemungkinan anggota keluarga (terutama anak) untuk tidak terjebak narkoba.
Keluarga yang bahagia dan sehat adalah, pertama, keluarga yang menanamkan kehidupan beragama yang kuat kepada seluruh anggota keluarga. Agama adalah hal ini penting di dalam memberi dasar untuk menentukan mana yang baik mana yang buruk, mana yang boleh mana yang tidak. Orang tua harus menekankan kepada diri sendiri dan anak-anaknya bahwa narkoba itu merusak hukum cinta kasih, yakni menghargai diri sendiri sebagai citra Allah dan menyayangi kehidupan bersama yang indah, sehat, dan bermutu tinggi. Anak (remaja) yang memiliki komitmen lemah terhadap ajaran agama mempunyai resiko empat kali lebih tinggi untuk terlibat penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya.
Kedua, keluarga yang selalu meluangkan waktu untuk berkumpul dengan seluruh anggota keluarga. Kumpul keluarga adalah penting untuk memelihara kebersamaan anggota keluarga. Kesempatan berkumpul hendaknya dimanfaatkan untuk membangun komunikasi yang baik antar anggota keluarga. Selain untuk menghilangkan kesalahpahaman, kumpul keluarga dapat membuat orang tua lebih mengetahui kepribadian dan permasalahan yang dihadapi anaknya.
Ketiga, keluarga yang memiliki rasa saling menghargai sesama anggota keluarga. Sering kali dengan segala kekuasaannya orang tua memaksa anak agar mematuhi kehendaknya dan mengabaikan keberadaan anak sebagai seorang individu. Orang tua hendaknya membantu peningkatan percaya diri anak, memberi pujian dan dorongan untuk hal-hal kecil atau sepele, membantu anak mencapai tujuan secara realistik, mengarahkan keinginan atau cita-cita anak sesuai kemampuan dan kenyataan, serta memberi tanggung jawab yang dapat membangun rasa percaya diri.
Keempat, keluarga yang mampu mengatasi masalah keluarga secara damai, penuh kasih dan kekeluargaan. Konflik suami-isteri yang dibiarkan berlarut-larut sangat berpengaruh bagi anak maupun anggota keluarga. Suasana menjadi terasa tegang. Pertengkaran atau perdebatan sengit hendaknya jangan sampai terjadi di depan anak. Jika perlu, bila ada konflik yang tidak dapat teratasi, hendaknya mencari pertolongan (konsultasi) dengan orang yang dapat dipercaya atau tenaga profesi (ahli). Suasana damai antara suami-isteri dan seluruh anggota keluarga perlu diupayakan dan diperjuangkan.

Perlunya Dukungan Positif
Kalangan pecandu narkoba mengakui bahwa kebanyakan dari mereka sebenarnya adalah korban peredaran gelap narkoba. Mereka ingin sembuh dan pulih, tidak lagi mengalami ketergantungan, mengalami stabilitas emosi, aktif, & merasa sehat. Pengaruh positif dari keluarga sangat mendukung percepatan penyembuhan mereka. Namun seringkali mereka harus berhadapan dengan stigma negatif dari masyarakat. Stigma itu seperti tembok tebal yang menghalangi keinginan mereka untuk mencapai tujuan dan pertolongan, yakni dari masyarakat sendiri sekaligus dari pemerintah selaku pembuat kebijakan.
Saat ini, hendaknya kita berani untuk menilai diri sendiri dan keluarga sendiri. Misalnya: sebagai orang tua, sudahkah saya (kita) mampu membuat anak-anak lebih krasan di rumah dibanding dengan lingkungan di luar rumah? Sudahkah saya (kita) mampu membuat anak-anak mau dan mampu berkomunikasi secara lebih terbuka tentang kehidupan dan lingkungan pergaulan mereka? Sudahkah saya (kita) berhasil membangun ketahanan keluarga? Sudahkah saya (kita) berhasil membentuk keluarga yang bahagia dan sehat?

Penutup
Masalah narkoba adalah masalah kita semua. Mari kita memberantas penyalahgunaan narkoba dengan berbasis pada ketahanan keluarga. Media, baik cetak maupun elektronik,
mempunyai peran yang sangat besar untuk memberikan penyadaran akan berbagai bahaya narkoba. Narkoba amat sangat merusak generasi penerus bangsa. Apakah kita hanya tinggal diam dan membiarkan orang-orang yang kita kasihi (suami, isteri, anak, teman, saudara, dan sebagainya) menjadi korban? Tentu tidak! (Theresia Penaten)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s